Manajemen Kekalahan: Mencintai kemenangan, membenci kekalahan?
Sunday, 27 November 2016
Add Comment
Manajemen Kekalahan: Mencintai kemenangan, membenci kekalahan?
Rupanya, sudah sejak lama umat manusia ini hidup dengan sikap "mencintai kemenangan, membenci kekalahan". Banyak ahli yang menulis berbagai hal tentang bagaimana meraih
kemenangan, tetapi sangat sedikit yang membahas tentang bagaimana
menghadapi kekalahan. Akibatnya dalam kehidupan ini banyak orang yang
siap menang, tidak siap.kalah. Ini cukup aneh menurut saya, karena
faktanya dalam hidup ini lebih banyak kasus kekalahan dibanding
kemenangan.Related
Mereka yang bijak akan belajar melatih diri untuk tersenyum di depan kemenangan sekaligus kekalahan. Berjuang, berusaha, bekerja, berdoa tetap dilakukan. Namun bila hadiahnya kekalahan, senyuman tetap menghiasi perjalanan.
Meraih medali kemenangan itu indah dan terhormat.Tapi tersenyum di depan kekalahan, itu hebat, hanya bisa dilakukan oleh orang yang bijak melihat kekalahan lebih memuliakan perjalanan hidup dibanding kemenangan. Karena bagi mereka, saat mengalami kekalahan, manusia sedang dilatih, diuji dan dilembutkan hatinya.
Dalam setiap konstruksi makna terjadi interaksi dinamis antara kenyataan apa adanya dengan kebiasaan seseorang mengerti dan memahami. Mereka yang biasa memahami sesuatu dalam perspektif tidak puas, serba kurang dan menuntut selalu lebih, akan melihat kehidupan yang tidak menyenangkan di mana-mana. Sebaliknya, mereka yang berhasil melatih diri untuk selalu bersyukur, ikhlas dan tulus akan lebih banyak melihat wajah indah kehidupan.
Membiarkan kemarahan dan ketidakpuasan mendikte pemahaman kita, hanya akan memperpanjang daftar panjang penderitaan yang sudah panjang. Bila pikiran sempit dan rumit (fanatisme sempit, picik, mudah menghakimi) maka kehidupan menjadi mudah marah, tersinggung dan sakit hati. Tapi bila pikiran luas dan bijak, maka kehidupan menjadi gampang bersyukur dan berterima kasih.
Apa yang sering disebut menang-kalah, sukses-gagal dan bahkan hidup-mati, hanyalah wajah-wajah putaran waktu. Seperti ketika waktu menunjukkan sekitar jam enam pagi berarti waktunya matahari terbit, bila jam enam sore berarti waktunya matahari tenggelam. Memaksa agar jam enam pagi matahari tenggelam hanya akan menghadirkan kekecewaan mendalam.
Kaya tentu saja berkah, namun sedikit ruang-ruang latihan di sana. Miskin memang dihindari banyak orang, namun kemiskinan menghadirkan daya paksa yang tinggi untuk senantiasa rendah hati. Menang memang membanggakan, namun godaan ego dan kecongkakannya besar sekali. Kalah memang tidak diinginkan nyaris semua orang, tetapi kekalahan adalah guru kesabaran.
Untuk kalian yang sedang dalam kekalahan, kalah bersaing, kalah berprestasi, kalah berkarir, siapkan hati untuk meyakini ini bukan kiamat, bukan akhir segalanya. Yakinlah akan penyertaan Tuhan untuk mengantarkan kita sampai giliran jadi pemenang pada saatnya nanti. Atau Tuhan akan menggantikan kemenangan lain yang lebih baik.
Jika usaha dan doa sudah dilakukan yang terbaik, lalu apa yang merisaukanmu lagi?
Penulis: Bapak Agus susilohadi
0 Response to "Manajemen Kekalahan: Mencintai kemenangan, membenci kekalahan?"
Post a Comment